Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Karya: Bastian Tito
Episode : SI CANTIK GILA DARI GUNUNG GEDE
TIGA penunggang kuda memperlambat lari tunggangan masing-masing ketika mencapai sebuah mata air di kaki Gunung Gede sebelah timur. Saat itu sang surya baru saja menggelincir dari titik tertinggi-nya udara yang sejuk di kawasan itu membuat terik cahaya matahari tidak terasa menyengat.
Penunggang kuda sebelah depan, seorang kakek berjubah kuning, berwajah merah seperti udang rebus dan cuma punya satu alis yaitu di atas mata kiri henti-kan kuda dekat mata air diikuti dua temannya. Dari peralatan penutup mata serta tanda-tanda pada pelana yang dimiliki tiga ekor kuda besar agaknya ke tiga penunggangnya bukan orang-orang sembarangan. Paling tidak mempunyai hubungan tertentu dengan Kerajaan di wilayah timur.
"Jika melanjutkan perjalanan dengan berlari, kurasa akan lebih cepat sampai di puncak gunung. Kita bisa meninggalkan kuda di tempat ini. Ada air, banyak rumput. Kelihatannya juga cukup aman. Bagaimana pendapat ki sanak berdua?" Si jubah kuning yang di Keraton Jawa Tengah dikenal dengan panggilan Lor Sakti Alis Tunggal bertanya pada dua temannya.
"Aku setuju saja," jawab kakek bermata juling mengenakan pakaian ringkas biru, lengkap dengan blangkon yang juga berwarna biru. Pada bagian depan blangkon menempel kepala seekor ular yang sudah dikeringkan berwarna hitam belang coklat putih. Dua tangan orang tua ini mulai dari pergelangan sampai ke sepuluh ujung jari berwarna hitam pekat. Di kawasan selatan Jawa Tengah dia dikenal dengan julukan Datuk Ular Jari Petir.
"Aku yang muda menurut apa suka kalian."
Orang ketiga membuka mulut. Barisan gigi dilapisi perak hingga jika mulutnya terbuka kelihatan deretan gigi besar berkilat kumis lebat, janggut tebal dan berewok tebal menutupi seantero wajah. Orang Ini mengenakan pakaian gombrang hitam.Yang hebat di kepalanya me
... baca selengkapnya di Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara - Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
No comments:
Post a Comment